Penjelasan Unlimited dari kata اللّه اكبر

INTERNATIONAL SEMINAR: “Changes in The World of Islam”
Fakultas Ilmu Budaya UGM 4 Juni 2012

Hari ini saya mulai dengan sebuah tangisan yang cukup lama, panjang dan sulit dihentikan. Kira-kira saya menangis dari habis solat Subuh sampai pukul delapan pagi. Tidak terus menerus menangis menggerung, akan tetapi tersendat-sendat namun air mata terus mengalir membasahi pipi. Selama air mata jatuh saya tetap melakukan aktifitas seperti biasa: mencuci piring, menyapu, menyiapkan pakaian untuk ke kampus dan membereskan kamar. Pertanyaannya adalah, mengapa saya menangis?
Jawabnya adalah:
Nyaris sekali saya tidak bisa mengikuti sebuah seminar yang sudah saya idam-idamkan dari hari sabtu silam. Seminar ini bertajuk “Changes in The World of Islam”. Pembicaranya berasal dari Iran. Saya mendapatkan informasi seminar ini dari sahabat saya, Fita Nafisa. Sejak semester empat awal saya sudah memutuskan bahwa kelak saya akan mengambil konsentrasi Kajian Timur Tengah. Iran menjadi salah satu negara target yang mesti saya kuasai budayanya. Meski beberapa negara Timur Tengah lain juga saya pelajari budayanya, tapi entah kenapa saya mencintai Iran. Bagi saya ada sesuatu di sebuah negara bernama Iran yang tidak umum, tidak terlalu populer dan menjadikannya khas. Sampai detik ini saya masih belum tahu apakah sesuatu itu yang bisa membuat saya mencintai Iran.
Saya mencoba mengikuti perkembangan Iran melalui radio, siaran berita, artikel dan koran. Bahkan saya jadikan kliping khusus tentang Iran dan saya pisahkan beritanya dengan berita-berita negara Timur Tengah lainnya. Event budaya mengenai Iran dan beberapa exhibition pernah saya hadiri di Jakarta dan sudah pernah saya posting artikelnya di blog ini. Mulai sejak itulah saya turut belajar bahasa Persia yang mana menjadi bahasa orang Iran sehari-hari. Dengan alasan panjang lebar inilah saya menangis karena saya pikir saya tidak bisa menghadiri seminar. Seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya UGM ini mulai dari pukul 14.00 atau jam dua siang dan seharusnya berakhir pukul 16.00 atau empat sore. Namun hingga pukul 13.00 saya masih di Solo dan belum menemukan partner yang bisa menemani saya seminar ke Jogja. Sebenarnya saya ingin berangkat sendiri dari jam 11 siang. Tapi Mami melarang saya untuk pergi ke Jogja sendirian. Sedangkan beberapa teman dekat tidak bisa menemani saya sebab kesibukan mereka dan bahkan ada beberapa yang tega tidak membalas sms saya. Mukjizat pun datang ketika saya pasrah pada Allah dan mengikhlaskan diri saya untuk tidak ikut seminar. Ketika melangkahkan kaki ke musholla untuk solat Dzuhur, saya bertemu dengan Dita Ikasari (Mahasiswa Sastra Inggris 2010) yang sedang duduk di depan SKI FSSR dengan wajah dongdong dan cukup memelas. Kurang lebih seperti inilah percakapan saya dengan Dita:
O : Hai Dit, kok bengong?
D : Hai pie! iya nih gue bingung mau ngapain dari tadi begini aja.
O : Udah solat belom Lu?
D : Kagak solat gue -.- (maksudnya sedang haid)
O : Oh, eh Dit gue mau curhat deh. Masa gue mau ke seminar di FIB UGM ngga jadi Dit. Soalnya ga ada yang nemenin gue. Kalau ke Jogja sendirian, Nyokap gue ngga ngizinin! Sedih nih gue Dit.
D : Iya Pie, muke lu kusut! Lah, seminarnya tentang apa?
O : Judulnya changes in the world of Islam. Seminarnya bagus insyaAllah, pembicaranya dari Iran.
D : Wow! Skalanya internasional dong?
O : Iye, Dit. sedih kan gue ga bisa ikut…
D : Ya udah sama gue aja. Ayo berangkat sekarang!
O : Seriusan? Emang lu demen sama tema begituan?!
D : Halah! Gue niat ngumpulin sertifikat! ayo berangkat!
Maka jadilah saya berangkat dengan Dita Ikasari. (Proses perjalanannya terlalu njelimet dan tidak perlu diceritakan). Intinya, ketika sampai di ruang auditorium FIB UGM (Saya dan Dita terpesona karena UGM indaaaaahhh sekali meski terlihat miskin karena mesti bayar dua ribu rupiah untuk masuk kampusnya. Kata pak Supir taksi, itu buat uang makan tambahan pegawai UGM. Saya cuma tertawa.) Kami masuk ke ruang Auditorium dengan perasaan lega dan cukup lelah karena mesti naik tangga (ruangannya di lantai tiga). Saya langsung menyuruh Dita merekam sesi terakhir (sesi tanya jawab) dan saya mengeluarkan pulpen serta note kecil untuk mencatat sekenanya sebab saya datang terlambat sekali. Kira-kira beginilah resume pas-pasan saya di sesi tanya jawab terakhir:
  • Merupakan sebuah realitas yang dicatat sejarah baik Iraq maupun Palestina dengan bertawakkal kepada Allah dan istiqamah untuk adil maka menjadikan mereka kelak berhasil. (Ini terjemahan buru-buru. Inti dari kalimat akhir yang diucapkan pembicara adalah supaya kita kelak meniru kesungguhan negara-negara Islam dalam berjuang.)
  • Terdapat fenomena antara Imam yang mesti memimpin jadi Khalifah setelah Rasulullah Saw entah itu Abu Bakr atau Ali bin Abi Thalib, keduanya diakui sebagai Khalifah. Hanya saja orang-orang Iran yang mayoritas Syiah menganggap seharusnya imam yang menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib dan bukan Khalifah Abu Bakr As-Shidiq.
  • Antar Syiah dan Sunni menurut pembicara (entah itu bernama Mr. Farazandeh atau Mr. Din Parvar karena saya datang terlambat jadi tidak tahu siapa nama pembicara) bukan perbedaan filosofi, melainkan perbedaan ‘views’ atau pandangan saja. (Hal ini dijawab ketika ada pertanyaan mengenai apakah perbedaan Sunni dan Syi’ah itu dan mengapa mereka tidak bisa bersatu. Namun sayangnya pembicara tidak membahas tuntas pertanyaan tersebut dan menjawab seperlunya saja.)
  • Infinnity sebenarnya konsep yang dibawa oleh Islam. Seperti misalnya pada kata اللّه اكبر memiliki arti ALLAH IS THE GREATEST dan bukan ALLAH IS GREAT. Karena maksud dari kata اكبر adalah NO LIMIT atau tiada batasnya. Saya jadi ingat dosen saya bilang itu superlative tidak ada bandingan. Saya tidak menyangka bakal menemui materi superlatif di dalam seminar dan dijelaskan langsung oleh pemuka agama Islam Syiah dari Iran.
  • Dengan fenomena Arab Spring yang tengah terjadi, berbagai kecamuk di Timur Tengah, kita mesti memahami siapa diri kita sebenarnya. Menurut pembicara kita mesti “TO BE WHAT YOU WANT TO BE. AND THROUGH THE TECHNOLOGY WE CAN CREATE SO MANY THINGS THAT USEFUL TO OUR LIVE!” Pembicara juga memberikan contoh pada beberapa sampel sederhana. Misal kita merebus air di panci, maka air mendidih sampai 100 derajat celcius karena adanya api yang memanasi air yang mana panas nyala api menjalar melalui panci. Dari contoh sederhana itu kita mesti berfilosofi. Bahwa tidak mungkin air mendidih sampai 100 derajat celcius tanpa sebab yaitu api yang memanasi. Itu artinya tidak mungkin ada keberhasilan dalam menyudahi semua perkara-perkara sedih di Timur Tengah tanpa kita cari penyebab permasalahannya, tanpa kita cari solusinya, dan jalan untuk mengentaskannya. Bahkan terkadang akan lebih baik jika sesuatu tidak kita musnahkan namun kita jadikan sesuatu dalam wujud lain yang bermanfaat dan tidak merugikan pihak lain. Hal ini terfilosofi dari angin yang memberikan inspirasi sebagai media untuk membantu pesawat dalam perjalanannya di udara.
Saya pun buru-buru membuka kamera dan mengambil gambar pembicara dari Iran yang sudah selesai bicara. Mereka terlihat tergesa-gesa ingin solat Ashar dan meninggalkan podium dengan wajah sumringah. Beberapa orang lelaki minta foto bersama namun tidak semua dilayani. Dita bertanya sama saya kalau saya ingin foto, dia akan ambilkan untuk saya. Tapi saya menolak karena tahu bahwa lelaki Iran tidak mau foto sama wanita yang bukan mahromnya berdua saja. Mesti ada lelaki lain yang turut foto. Maka Dita dan saya ambil foto mereka dengan buru-buru dan inilah hasil jepretan amatir dari kamera nokia E-72 saya yang sudah berusia 3,5 tahun. Sedih sekali…
Pembicaranya yang berkepala agak botak di bagian ubun-ubun, berkumis dan berjenggot
Penyerahan kenang-kenangan dari FIB UGM
Pembicara Iran yang berjenggot putih bersurban hitam dan berpakaian panjang mengingatkan saya dengan Imam Ali Khomeini. Pada presentasinya, ia berbicara bahasa Persia dan diterjemahkan oleh seorang penerjemah dari Indonesia
Coffee breaknya enaak… roti isi pisangnya mengingatkan saya pada roti khas kartika chandra
Pemandangan kamar mandi di tempat wudhu wanita di masjid kampus UGM bagus buat ide tempat wudhu di rumah (hahaha)
 (Saya {memakai jilbab} duduk di depan kolam masjid yang besar dan indah. Meski kata Dita warna air kolamnya seperti muntahan HULK, saya tidak menganggap itu sebuah kekurangan. Kolam berwarna hijau menambah keindahan bangunan Masjid Kampus UGM. Sedangkan Dita Ikasari berfoto dengan gaya khasnya di depan gerbang masuk menuju masjid yang tingginya mengingatkan saya pada bangunan-bangunan di kerajaan Yunani tempo dulu.)
thanks to Dita Ikasari yang sudah mau berjuang menemani saya ke UGM
Sekian perjalanan buru-buru saya ke FIB UGM demi mengikuti seminar internasional. Semoga lain waktu akan ada seminar-seminar lain mengenai Timur Tengah dan saya bisa mengikutinya. Semoga postingan narasi-informatif ini bermanfaat untuk pembaca.

3 Comments

  1. Silsilah Bangsa Melayu

    Ibn Abd Al Rabbih di dalam karyanya Al Iqd al Farid, yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” menyebutkan adanya korespodensi antara raja Sriwijaya (Sri Indravarman) dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada sekitar tahun 100 H (abad ke-8M) (Kunjungi : Sriwijaya Pintu Masuk Islam Ke Nusantara), Raja Sriwijaya berkirim surat yang isi surat tersebut adalah sebagai berikut :

    ”Dari Raja di Raja (Malik al Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang isterinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya”

    (?) Benarkah raja Sriwijaya, adalah keturunan seribu raja ?

    (?) Benarkah raja Sriwijaya, adalah keturunan Iskandar Zulqarnain dan Nabi Sulaiman?

    (?) Siapa yang dimaksud dengan Raja Nusirwan ‘Adil, Raja Masyrik (Timur) dan Maghrib (Barat), seperti terdapat dalam Sejarah Melayu?

    Berpedoman kepada Sejarah Melayu, sebagaimana diuraikan sebelumnya, diperoleh informasi Salasilah Demang Lebar Daun dan Sang Sapurba bertemu pada Raja Nusirwan ‘Adil.

    Di kalangan ahli sejarah, memperkirakan Raja Nusirwan ‘Adil indentik dengan King Anushirvan “The Just” of Persia (memerintah pada tahun 531-578 M, di Kerajaan Persia Dinasti Sassanid), beliau adalah putera Kavadh I of Persia atau dalam sejarah melayu disebut Raja Kibad Syahriar.

    Melalui penyelusuran Genealogy, diperoleh Silsilah King Anushirvan (Khosrow I of Persia), dengan perincian sebagai berikut :

    1. Susur Galur dari Cyrus II “The Great” of Persia (Zulqarnain)

    Maharaja Nusirwan ‘Adil (Anushirvan/King Khosrow I “The Just” of Persia) bin Maharaja Kibad Syahriar (Kavadh I of Persia) bin Firuz II of Persia bin Yazdagird II of Persia bin Bahram V of Persia bin Yazdagird I of Persia bin Shapur III of Persia bin Shapur II “The Great” of Persia bin Ifra Hormuz binti Vasudeva of Kabul bin Vasudeva IV of Kandahar bin Vasudeva III of Kushans bin Vasudeva II of Kushans bin Kaniska III of Kushans bin Vasudeva I of Kushans bin Huvishka I of Kushans bin Kaniska of Kushanastan bin Wema Kadphises II of Kunhanas bin Princess of Bactria binti Calliope of Bactria binti Hippostratus of Bactria bin Strato I of Bactria bin Agathokleia of Bactriai binti Agathokles I of Bactriai bin Pantaleon of Bactria bin Sundari Maurya of Magadha (menikah dengan Demetrios I of Bactriai*), keturunan Raja Iskandar (Alexander III “The Great” of Macedonia)) binti Princess of Avanti (menikah dengan Brihadratna Maurya of Magadha**), keturunan King Ashoka) binti Abhisara IV of Avanti bin Abhisara III of Pancanada bin Abhisara II of Taxila bin Abhisara I of Taxila bin Rodogune Achaemenid of Persia binti Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia (menikah dengan Darius I of Pesia***), keturunan Bani Israil) binti Cyrus II “The Great” of Persia

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s