Prelinier Dalam Penerjemahan

Sebagai makhluk sosial, manusia selalu bersentuhan dengan problematika kehidupan. Salah satu dari sekian banyak permasalahan sosial adalah komunikasi. Dengan melakukan komunikasi, manusia mendapatkan banyak informasi yang bisa memberikan pengaruh yang bermacam-macam dalam hidup sehari-hari. Dewasa ini, media informasi yang canggih dan mutakhir mudah diakses dan didapatkan. Berbagai macam bahasa bisa diterjemahkan hanya dalam beberapa detik melalui mesin pencari atau biasa disebut google. Begitu juga informasi-informasi yang aktual bisa dicari melalui media tersebut.
Dengan adanya informasi yang penting dan berasal dari berbagai macam belahan dunia, manusia membutuhkan penerjemahan yang baik agar maksud dan makna dari informasi tersebut bisa tersampaikan secara tepat. Media instan seperti google mungkin akan menghemat waktu, tapi belum bisa dipastikan keakuratannya. Hal ini disebabkan mesin tersebut bisa diisi oleh siapapun yang berkecimpung di dalamnya. Semua pemikiran, gagasan dan pendapat dari khayalak bisa dengan mudah dimasukkan ke dalamnya sehingga hasilnya kurang akurat meski bisa menghemat waktu dan tenaga.
Untuk itulah, sebuah pengantar dalam kajian ilmu penerjemahan masih sangat dibutuhkan meski teknologi sudah semakin canggih. Penerjemahan yang baik dibutuhkan untuk dapat menghasilkan informasi-informasi yang tepat. Maksud dan tujuan yang hendak disampaikan melalui informasi bisa tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga selanjutnya, penerjemahan tidak hanya sebagai media pasif yang berfungsi sebagai alat saja namun bisa aktif dalam berbagai aktifitas, kegiatan, perniagaan, bisnis dan pekerjaan lainnya agar lebih efektif dan akurat.
1) DEFINISI PENERJEMAHAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terjemah atau menerjemahkan merupakan suatu pekerjaan menyalin atau memindahkan suatu bahasa ke bahasa lain atau mengalih bahasakan. Beberapa ahli lingustik juga memberikan pendapat mereka mengenai penerjemahan. Menurut Larson (1989:3) penerjemahan merupakan pengalihan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Makna dialihkan dan dipertahankan. Bahasa boleh diubah. Larson menekankan terjemah pada makna. Sedangkan Kridalaksana mendefinisikan penerjemahan dalam dua sisi yaitu, (a) penerjemahan adalah pengalihan amanat antarbudaya dan atau antar bahasa dalam tataran gramatikal dan leksikal dengan maksud, efek atau wujud yang sedapat mungkin tetap dipertahankan, (b) penerjemahan merupakan bidang linguistik terapan yang mencakup metode dan teknik pengalihan amanat dari satu bahasa ke bahasa lain. Sama seperti Kridalaksana, Doster juga mengungkapkan hal yang sama mengenai terjemah sebagai bidang linguistik terapan. Hal ini dapat terlihat dalam ungkapannya yakni terjemah sebagai memindahkan arti suatu teks dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Lebih jauh Doster mengatakan bahwa terjemah adalah cabang linguistik terapan yang secara khusus berurusan dengan masalah pemindahan makna dari suatu simbol bahasa ke dalam simbol bahasa yang lain. Singkatnya, Burdah (2004:9) memberikan definisi yang cukup singkat dan ringkas yaitu terjemah sebagai usaha memindahkan pesan dari teks sumber dengan padanannya ke dalam bahasa sasaran.
2) KLASIFIKASI PENERJEMAHAN
Jika dilihat secara umum, kata ‘translation’ sudah bisa memberikan gambarannya. Namun dalam medium bahasa, penerjemahan terbagi dalam dua kategori. Kategori yang pertama adalah ‘translation’ sedangkan kategori yang kedua adalah ‘interpretation’. Dalam medium bahasa, ‘translation’ diartikan sebagai penerjemahan dalam medium bahasa tulis; teks bahasa sumber dalam bentuk bahasa tulis diterjemahkan menjadi teks bahasa sasaran yang juga dalam bentuk bahasa tulis. Sedangkan ‘interpretation’ adalah penerjemahan dengan medium bahasa lisan; teks bahasa sumber dalam bentuk bahasa lisan diterjemahkan menjadi teks bahasa sasaran juga dalam bentuk bahasa lisan. Penerjemahan lisan dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu penerjemahan lisan bersifat ‘consecutive’ atau pembicara menyampaikan pesannya pada saat-saat tertentu dia berhenti atau membuat jeda untuk memberi kesempatan pada penerjemah menerjemahkan pesannya, dan penerjemahan lisan yang bersifat ‘simultaneous’ atau penerjemah langsung menerjemahkan pesan pembicara pada saat pembicara menyampaikan pesannya. Selanjutnya klasifikasi penerjemahan menurut Roman Jacobson terbagi menjadi tiga . Tiga macam tersebut dikelompokkan oleh Dickins (2002:7-12) menjadi klasifikasi penerjemahan sebagai sebuah proses. Namun Nida (1964:3) mengistilahkannya sebagai The General Field of Translation.
Tiga macam tipe penerjemahan menurut Roman Jacobson adalah sebagai berikut:
Intersemiotic. Yaitu penerjemahan ke dalam bentuk lain seperti ke dalam bentuk musik, film, lukisan, drama, dan teater. Dari kata semiotic yang artinya tanda, bisa juga dikatakan sebagai penerjemahan tanda.
Intra Lingual. Yaitu penerjemahan yang terjadi dalam bahasa yang sama. contohnya: film berbahasa Arab Mesir (‘Amiyyah) diterjemahkan dengan subtitle berbahasa Arab (Fusha), puisi AKU karya Chairil Anwar menjadi prosa dengan bahasa yang sama yaitu Bahasa Indonesia.
Inter Lingual. Yaitu penerjemahan antarbahasa dari satu bahasa ke dalam bahasa lainnya.
Yang terakhir dalam klasifikasi penerjemahan adalah menurut kamus linguistik. Namun, dalam hal ini terbagi menjadi dua kamus. Pertama; kamus linguistik menurut Kridalaksana. Kedua; kamus linguistik menurut Ramzi M. Baalbaki. Untuk mempermudah pemahaman dapat dilihat dari bagan di bawah ini:
Dalam kamus linguistik menurut Kridalaksana, klasifikasi penerjemahan terbagi menjadi sembilan. Sedangkan Ramzi M. Baalbaki membaginya dalam delapan varian. Namun keduanya saling mengisi dan berkaitan. Tidak ada perbedaan yang terlalu menonjol dari keduanya.
Sedangkan menurut Ramzi M. Baalbaki dapat dipahami melalui berikut ini:
1 Free Translation Memindahkan informasi dari bahasa sumber atau bahasa asli kepada bahasa sasaran dengan memperhatikan kaidah Nahwu dan tarkib-tarkib pada bahasa sasaran dengan tujuan agar pembaca tidak merasakan bahwa teks yang dibaca merupakan hasil terjemahan dari teks asli.
2 Interpreting Penerjemahan lisan, penerjemahan yang tidak terkodekan. Penerjemahan jenis ini berdasarkan korelasi waktu dan ujaran yang diterjemahkan dan ujaran penerjemah dibagi menjadi dua yaitu konsekutif dan simultan.
3 Automatic Penerjemahan yang menggunakan alat komputer khusus yang telah diprogram untuk tujuan ini, yaitu dengan menggunakan alat atau mesin penerjemah.
4 Literary (Harfiah) Penerjemahan secara harfiah
5 Literature (Sastra) Penerjemahan teks sastra prosa atau puisi, penerjemahan jenis ini memerlukan perhatian penerjemah pada saran-saran dan bayangan makna. Begitu pula pada kenaturalan tarkib dan fungsi-fungsinya dan keindahan teks yang maksimal.
6 Pragmatic Penerjemahan teks non-sastra seperti teks ilmiah. Memerlukan perhatian penerjemah dengan teliti pada proses pemindahan informasi dan dengan kesesuaian penggunaan istilah-istilah yang cocok pada bahasa sumber dan bahasa sasaran.
7 Sociolinguistic Penerjemahan yang meliputi konsentrasi atau penjagaan khusus pada latar belakang budaya dan keadaan masyarakat milik penulis teks dan pembacanya yang sedang diasumsikan, penerjemahan ini diambil dalam kalkulasi yang berbeda-beda di antara beberapa bahasa dalam menjelaskan subjek atau trend budaya yang beragam.
8 Word for word Asasnya berupa pemindahan per kata tanpa kaidah ilmu nahwu.
URGENSI PENERJEMAHAN
Penerjemahan memiliki nilai urgensi atau kepentingan di dalamnya. Urgensi dalam kamus Bahasa Indonesia berarti hal yang sangat penting atau pentingnya sesuatu. Kegiatan penerjemahan berperan penting dalam proses komunikasi mengingat di dunia ini ada lebih dari 5.500 jenis bahasa yang berbeda. Untuk itu, beberapa point mengenai manfaat urgensi penerjemahan bisa dicatat sebagai berikut:
1. Mengurangi masalah yang dapat ditimbulkan dari adanya komunikasi.
2. Berkontribusi dalam alih bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, agama dari negara maju ke negara berkembang atau sebaliknya.
3. Berkontribusi pada kemajuan individual yang memiliki profesi tertentu yang berkaitan dengan penerjemahan.
4. Membuka lapangan pekerjaan baru. Dengan demikian mengurangi resiko kenaikan angka pengangguran pada suatu negara.
PROSES PENERJEMAHAN
Merupakan suatu model yang dimaksudkan untuk menerangkan proses pikir (internal) yang dilakukan manusia saat melakukan penerjemahan (Suryawinata, 2003:17). Pada awalnya proses penerjemahan dianggap satu arah seperti berikut:
Contoh kasus untuk bagan di atas adalah:
The girl is pretty.
Gadis itu cantik.
Dalam penerjemahan tersebut, dapat diterjemahkan dengan satu arah. Namun bagaimana jika kasusnya:
Father became more puzzled than ever.
Tentu kita tidak bisa menerjemahkan secepat kalimat sebelumnya. Maka dari itulah, Nida dan Taber menggambarkan proses penerjemahan selanjutnya dengan panah dinamis.
KESIMPULAN
• Penerjemahan menurut saya merupakan keterampilan yang melibatkan seni bakat, upaya teori dalam aplikasinya untuk mengalih bahasakan dari satu bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dengan memperhatikan atau tidak kaidah bahasa, susunan, tekstual, kontekstual, makna, pesan, budaya dan kekhususan bahasa sumber kepada bahasa sasaran.
• Penerjemahan terdiri dari definisi, klasifikasi, urgensi dan proses.
• Klasifikasi penerjemahan terbagi menjadi tiga yaitu menurut medium bahasanya, menurut pendapat Roman Jacobson dan menurut Kamus Linguistik.
• Urgensi penerjemahan meliputi definisi dan manfaat dari mempelajari pengantar penerjemahan.
• Proses penerjemahan terdapat dua bagan. Satu bagan mengenai penerjemahan satu arah dan bagan kedua merupakan bagan dinamis menurut Nida dan Taber apabila tidak bisa diterjemahkan dalam satu arah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s