Pantaskah Saya Bersanding Dengannya?

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
(Quran surah An-Nuur : 26)
PERTAMA kali saya membaca ayat 26 Surah An-Nuur di dalam Alquran, terbesit dalam benak saya sebuah pertanyaan; apakah saya termasuk yang keji atau yang baik?. Saya berdiri di depan cermin. Melihat baik-baik sosok yang saya pandangi dengan kedua mata ini. Saya hanya seorang perempuan berusia tujuh belas tahun kala itu. Dan mungkin untuk pertama kalinya terperanjat dengan bunyi ayat tersebut. Pikiran saya mulai berpikir-pikir agak jauh. Bagaimana jika seorang perempuan yang pada awalnya berangkat dari masa lalu yang kelam dan ingin mendapatkan suami yang baik, saleh dan bisa membimbingnya ke masa yang cerah dan lebih berkah, apakah perempuan itu bisa mendapatkan apa yang ia inginkan? Ataukah sudah rumus pasti bahwa ia akan mendapat lelaki yang sesuai dengan perbuatannya di masa lalu? Begitu juga sebaliknya?
Agama itu makanan hati, kata seorang paman pada saya. Setelah saya pikir-pikir, saya tidak perlu repot sendiri dengan ayat itu. Namun bukan berarti melewatinya begitu saja—harus dicerna baik-baik, bukan asal lahap. Jika dilihat dari asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat tersebut, ayat itu menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Safwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik, maka dari itu perempuan yang baik pula yang menjadi istri beliau. Saya yang masih berusia baru menginjak remaja saat itu mencernanya sederhana; Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Tentu, sekalipun ayat itu sudah menjadi aturan pakem dalam siklus hidup yang berjalan ini, Allah pasti tidak begitu saja membiarkan hamba-Nya yang memohon. Terlebih, hamba tersebut sudah bertaubat dan tidak mengulangi perbuatannya di masa lalu.
Ada kaitannya dengan sebuah buku yang pernah saya baca. Saya sangat berterima kasih dengan buku yang berjudul, “Menstruasi Tanpa Rasa Sakit” ditulis oleh Dr. Athif Lammadhah yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar. Sebuah sub bab yang menurut saya cukup singkat namun memberikan pesan moral yang sangat bernilai tinggi. Khusus untuk para lelaki yang ingin menikah atau sudah mempersiapkan pernikahan atau juga baru melangsungkan pernikahan. Kebanyakan lelaki dan perempuan yang membaca arti ayat 26 Surah An-Nuur tadi memiliki pemikiran yang berbeda dari tujuan yang sebenarnya dimaksud dalam ayat tersebut. Bahkan, terkadang pemikiran itu teramat dangkal dan dipersulit sebab tidak didiskusikan dengan yang lebih tahu atau yang lebih paham mengenai agama Islam. Itu menyebabkan tidak sedikit kasus-kasus yang sepertinya sepele namun menimbulkan masalah yang besar dan cenderung fatal. Hal ini disebabkan kerancuan dalam pemahaman kalam-kalam Ilah dan pemahaman yang sempit karena tidak disertai pengetahuan yang mumpuni. Efeknya bisa bermacam-macam. Bahkan bisa seperti kecelakaan beruntun yang sering terjadi di jalan tol.
Bukan sebuah tulisan yang hebat, memang. Saya hanya ingin menulis. Menulis yang perlu saya tulis, yang menurut saya perlu untuk dibagi. Agar kekecewaan ini tidak meluas, tidak semakin banyak dirasakan oleh banyak perempuan lainnya baik itu muslim atau pun bukan muslim; Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, bahkan atheis sekalipun. Karena perempuan sesungguhnya makhluk yang mulia, yang juga disayang Tuhan. Dan ingatlah, tidak akan ada generasi penerus tanpa hadirnya sosok perempuan.
Banyak orang dewasa tahu apa itu selaput keperawanan tapi tidak mengerti.
Saat itu saya sedang berlibur dan berjalan-jalan di Mall Lippo Cikarang. Tidak banyak yang saya lakukan di sana. Hanya masuk ke dalam toko buku dan melihat beberapa buku yang menurut saya bisa menjadi acuan belajar di perkuliahan sastra Arab. Saya berjalan mengelilingi rak-rak buku setinggi dada, menelusuri judul-judul buku yang cocok. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah buku di bagian Agama Islam, teronggok di bawah beserta buku-buku terbitan lama lainnya. Dan buku itulah yang mendasari saya menulis sekarang meski tidak berkaitan dengan sastra Arab. Buku yang mengilhami saya untuk menulis. Saya membelinya. Tentu. Buku itu tidak menarik jika dilihat sampulnya, jujur saja. Saya tidak suka warna merah dan gambar tetesan air di depannya. Tapi judulnya sungguh fantastis. Mungkin karena saat itu saya berharap dengan membelinya bisa mendapatkan solusi aktif terhadap permasalahan yang kebetulan selalu saya alami; sakit pada saat menstruasi.
Ketika sampai di rumah, saya langsung membacanya. Tidak sampai habis dalam semalam namun baru bisa saya tuntaskan seminggu kemudian karena terpotong banyak kegiatan. Sebagai seorang perempuan, mungkin tidak hanya saya, sering merasa sakit saat menstruasi. Rasa sakit yang mendera di saat menstruasi memang terdengar remeh bagi mereka yang tidak merasakan proses tersebut. Misalnya bagi laki-laki yang jelas-jelas tidak mengalami proses menstruasi. Bahkan perempuan yang selama menstruasinya lancar dan sehat-sehat saja mungkin bertanya-tanya kenapa sebagian perempuan lainnya mengalami rasa sakit yang luar biasa saat menstruasi sedangkan dirinya tidak. Terkadang, rasa sakit itu tidak cuma ‘mampir’ di rahim. Bisa menjalar ke seluruh tubuh; kepala jadi terasa berat, pening, lambung terasa perih dan mual seperti gejala maag, badan terasa linu dan perasaan pun ikut terkontaminasi. Dengan efek yang sedemikian hebat terjadi selama menstruasi menyebabkan kondisi hati dan pikiran perempuan yang mengalaminya merasa gelisah, kadang takut, kalut, tidak tenang, juga sering kali penuh emosi. Rasanya ingin sekali marah-marah. Sedikit-sedikit mudah tersinggung, mudah terpancing kesalnya. Saya memang mengalami semua itu meski tidak dalam sekali waktu. Untuk itu saya bersyukur sekali menemukan buku tipis namun penuh pengetahuan tersebut. Agaknya, saya menjadi lebih paham sedikit mengenai menstruasi, penyebabnya, serta dampak-dampak yang ada. Saya terus membacanya sampai akhirnya saya menyadari ada sebuah sub bab yang membuat saya tertarik untuk dibaca berulang-ulang.
Bukan hanya karena judul sub bab tersebut memiliki banyak kontroversi dalam pandangan tabu tapi karena memang sesuai dengan apa yang ingin saya bagi. Sebelum saya menceritakan kisah yang sudah saya janjikan, akan lebih baik jika anda membaca lebih dulu kutipan sub bab dalam buku tersebut:
Selaput Keperawanan.
 
Yaitu, selaput tipis yang menutup lubang vulva (pada wanita perawan) dan terletak di bagian bawah vulva antara labia mayora dan labia minora. Di mana keduanya membentuk perlindungan khusus untuknya, dan ia tidak terletak pada bagian muka (atas), oleh karena itulah sulit terkena sentuhan kecuali sentuhannya secara langsung. Di tengahnya terdapat lubang untuk keluarnya darah menstruasi (darah haid). Sebagaimana juga memungkinkan bagi tempat keluarnya cairan-cairan vagina. Lubang ini berbeda-beda bentuknya dari satu wanita ke wanita lainnya. Bentuk selaput keperawanan ini bermacam-macam diantaranya:
berbentuk bulan sabit (inilah yang umum)
berbentuk lingkaran
berbentuk loyang (ayakan)
berbentuk lubang dan juga ada yang berbentuk semacam karet yang melar dan tidak mengeluarkan darah.
 
Berbagai macam bentuk ini, terkadang karena kebodohan dan ketidaktahuannya, dapat menyebabkan munculnya problematika sosial yang bisa mengakibatkan kepada perceraian atau bahkan tindakan membunuh mempelai wanita (karena balas dendam merasa dikhianati kehormatannya) dengan klaim bahwa ia sudah tidak perawan lagi! Ia tidak mengeluarkan darah ketika ditembus selaput keperawanannya. Pemuda yang sudah mendekati masa pernikahan, wajib mengetahui perkara-perkara seperti ini. Dan realitanya, bahwa pemahaman atas masalah-masalah tersebut bagi pemuda-pemudi yang sudah mendekati masa pernikahan termasuk perkara yang sangat penting dan urgen!
(Gangguan jiwa dan kesehatan wanita, Dr. Athif Lammadhah, Daar Adz-Dzahabiyyah, hal 58-59)
Saya memberi tanda sub bab itu dengan warna stabilo—dengan tujuan untuk menjadikannya referensi mengenai problematika sosial yang sering terjadi di dalam masyarakat kita. Sekaligus menyadari bahwa betapa banyak orang dewasa yang tahu apa itu selaput keperawanan namun tidak mengerti apa maksud dari penciptaan itu. Bagaimana sebuah selaput bisa memiliki berbagai macam bentuk dengan kekurangan dan kelebihannya. Serta tidak semua selaput bisa mengeluarkan darah saat terjadi senggama.
Dalam kehidupan, kita akan menemukan banyak fenomena yang terjadi di masyarakat. Saya menggunakan judul ‘Pantaskah Saya Bersanding Dengannya?’ sebagai wujud perhatian terhadap mereka yang merasa kurang ‘pantas’ untuk mendapatkan calon pendamping hidup yang lebih baik dari diri mereka sendiri. Dua contoh yang saya pakai dalam tulisan ini adalah:
(1) Jika Anda pernah menikah dan sudah pernah berhubungan badan dengan pasangan Anda sebelumnya. Bisa dikhususkan untuk wanita dalam hal ini. Namun kini Anda bercerai dan bermaksud mencari suami lagi, (2) Jika Anda masih gadis atau perawan namun tidak mengalami pendarahan saat berhubungan badan dengan suami Anda lalu suami Anda mencurigai bahwa diri Anda sudah tidak perawan sebelum menikah dengannya.
Pertama kali, kita harus pandai menelaah mana kasus yang terjadi. Dari dua variabel kasus di atas, tentu keduanya sangat membuat pusing. Dari situ akan timbul pertanyaan dalam benak kita seperti, ‘apakah saya akan laku?’ atau ‘apakah saya pantas mendapatkan suami lagi yang masih perjaka’ dan sebagainya. Kita akan merasa rendah diri, hina dan pesimis menatap masa depan. Terlebih dengan hadirnya surah An-Nuur ayat 26, kita akan semakin bertanya-tanya ‘apakah kita ini baik atau keji? bagaimana cara membedakannya? Apakah Allah berkenan membuat kita bersih seakan-akan kita baru dan mendapatkan jodoh yang bersih pula?’
Kekhawatiran macam itu semakin mengakar. Jika tidak dilandasi dengan keimanan, seorang gadis yang baru bercerai dari suaminya karena masalah ‘dicurigai’ keperawanannya akan mengakhiri hidup di sudut ruangan dengan meminum racun atau pendarahan karena memotong urat nadi. Pertama, penting sekali bagi kita yang merasakan hal itu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Satu-satunya cara adalah menerima dengan ikhlas peristiwa yang sudah terjadi. Berdasarkan teori yang saya kutip mengenai selaput keperawanan, itu bukan satu-satunya alat yang akurat sebagai ukuran keperawanan seorang gadis. Sebab, rusaknya selaput itu tidak hanya dengan senggama. Bisa jadi karena aktivitas berat, naik sepeda atau motor terlalu lama. Suka melakukan pendakian ke gunung atau makanan yang berpengaruh pada organ vital. Hilangnya keperawanan kita karena sudah berhubungan bukan berarti menjadi ukuran buruknya seorang wanita. Itu adalah alamiah. Dengan mudah rusaknya selaput itu, tentu bisa diambil kesimpulan bahwa ukuran keperawanan bukanlah melalui alat tersebut. Bisa jadi melalui akhlak, tingkah laku dan cara bertutur si perempuan tersebut. Kesucian hati dan keluhuran budi pekerti saya anggap sebagai sesuatu yang lebih sakral, tinggi dan mulia dibandingkan mengukur keperawanan diri kita hanya dengan selaput keperawanan.
Masalah kita adalah baik atau keji itu lain persoalan. Setiap hamba-Nya, hanya Allah yang Maha Mengetahui. Sekalipun dalam kacamata kita sebagai manusia, kita tidak pantas mendapatkan seorang yang saleh, bukan berarti bagi Allah juga demikian. Boleh jadi kita memang pernah menjadi seorang yang kurang baik. Tapi karena keinginan kuat kita untuk menjadi baik dan salehah, Allah mempertemukan kita dengan lelaki yang saleh agar kelak bisa membimbing kita menuju Jalan-Nya yang hakiki.
Sumber bacaan:
Syaamil Al-Quran terjemah per-kata, tipe Hijaz. hal.352
Menstruasi Tanpa Rasa Sakit, Dr.Athif Lammadhah, hal 15-16 penerbit Al-Kautsar
This entry was posted in Feature, Journalistic. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pantaskah Saya Bersanding Dengannya?

  1. Anonymous says:

    sangat bermanfaat sekali ini menambah wawasan saia dalam menilai seorang wanita…dan buat koreksi diri saia….

    Like

  2. MK. Wirawan says:

    alhamdulillah. saya senang sekali jika ini bermanfaat untuk Anda.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s