Pengantar Ilmu Sastra; Kesusasteraan

Pengertian kesusasteraan
Di dalam sub bab ini tidak dijelaskan secara gamblang pengertian kesusasteraan. Hanya secara etimologis secara asal-usul kata yakni karangan yang indah. Yang dijelaskan hanyalah proses penciptaan rasa, daya kreatif dan imajinasi. Menurut saya, di dalam sub bab ini, penjelasannya kurang tepat dan kurang sistematis. Proses penciptaan kesusasteraan Di dalam sub bab ini proses penciptaan kesusasteraan dijelaskan cukup baik dari adanya beberapa contoh seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” dari Hamka, “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana merupakan kritik penulis terhadap kehidupan masyarakat yang masih statis. Karya sastra Marah Rusli yang berjudul “Sitti Nurbaya” merupakan kritik terhadap tata kehidupan masyarakat Minangkabau sekitar tahun 1920-1930. Karya Idrus “Surabaya” juga adalah kritik terhadap akses-akses dan hal-hal yang negatif dari revolusi fisik. Sajak-sajak khairul anwar, kumpulan puisi Taufik Ismail “Benteng” dan “Tirani” juga demikian.
Jadi menurut saya, di dalam sub bab ini penjelasan yang diberikan sudah cukup detil. Bentuk-bentuk kesusasteraan Di dalam sub bab ini bentuk kesusasteraan terbagi menjadi empat: puisi, cerita rekaan atau fiksi, esei dan kritik, serta drama. Penjelasan dalam sub bab ini cukup jelas dan sistematis mulai dari definisi, klasifikasi tiap bagian dan sampel.
Menurut saya, pembaca dapat memahami dari penjelasan empat bentuk kesusasteraan di dalam sub bab ini. Wilayah-wilayah kesusasteraan Penulis membagi tiga wilayah kesusasteraan dalam sub bab ini, yaitu: wilayah penciptaan kesusasteraan (the life of literature), wilayah penelitian kesusasteraan (the study of literature) dan wilayah penikmat kesusasteraan. Disini ditulis cukup jelas pengertian dan batas-batas wilayah tersebut sehingga pembaca akan mengerti posisi dan peran masing-masing wilayah. Menurut saya, sub bab ini sudah cukup jelas untuk dipahami. Keaslian, saduran, dan plagiat Dalam sub bab ini dipaparkan beberapa kasus plagiat yang dilakukan oleh penyair kesusasteraan Indonesia seperti Chairil Anwar dengan sajaknya yang berjudul Krawang-Bekasi yang ternyata merupakan plagiat dan saduran dari sajak Archibald Mac Leisch “The Young Dead soldiers”. Disini dijelaskan perbedaan dari kata orisinal atau keaslian, saduran dan plagiat, sebab jika saja Chairil menuliskan sumber sajaknya itu, sajaknya bisa dikatakan sebuah saduran. Karena ia berbuat seolah-olah itu sajak buatannya maka sajak Krawang-Bekasi dikatakan sebagai plagiat juga saduran. Imajinasi Penulis menjelaskan adanya kasus mengenai kesalah pahaman publik mengenai karya sastra yang menggunakan imajinasi yang terlalu tinggi, seperti karangan Ki Panji Kusmin yang terkenal pada tahun 1967 sampai dengan 1970. Cerpen yang berjudul “Langit Makin Mendung” itu mengisahkan imajinasi sang pengarang akan sebuah kehidupan Tuhan dan para nabi di surga, kemudian Nabi Muhammad turun ke Jakarta menaiki Buraq dan melihat banyak maksiat di sana. Hal ini mengundang kontroversi di khalayak ramai dan cerpen ini dianggap sebagai karangan yang menghina agama islam. Padahal, dalam setiap karya sastra, terdapat sebuah imajinasi yang bersifat objektif, tergantung bagaimana perspektif orang dalam membaca, memahami dan menilai karya sastra tersebut.
Dua segi tinjauan terhadap sebuah hasil sastra Sub bab ini menjelaskan ilmu kesusasteraan yang terbagi menjadi beberapa bidang. Kemudian meninjau pada dua segi yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pengertian isi dan struktur Penulis cukup memaparkan jelas dalam sub bab ini, ia juga memberikan definisi isi dan struktur dengan cukup baik. Bahkan penulis juga memberikan refrensi mengenai definisi isi, yaitu menurut Idrus berdasarkan pendapat Bernedetto Croce. Tema dan Amanat Sama seperti pengertian isi dan struktur, penulis juga sudah memaparkan dengan cukup jelas dan memberikan definisi refrensi dari William Henry Hudson mengenai definisi tema. Bahkan penulis juga menambahkan opini bahwa memberikan tema bombastis seperti Lekra-PKI bukanlah tema yang baik, hanya terkesan besar tapi sesungguhnya kosong belaka. Ia memberikan opini bahwa tema yang sederhana namun mengangkat nilai kemanusiaan dan moral merupakan tema yang baik. Sedangkan untuk amanat, ia lebih menekankan pada pemberian amanat secara tersirat atau implisit. Struktur puisi Penulis menjelaskan secara detil urutan struktur yang terkandung dalam puisi dan menyajikan sedikit informasi mengenai gaya bahasa yang mengandung beberapa majas, seperti memberikan materi tambahan pada pembaca. Struktur cerita rekaan fiksi Dalam sub bab ini penulis menjelaskan unsur struktur cerita rekaan atau fiksi dan menjelaskan masing-masing unsur tersebut. Kelima unsur tersebut yakni: alur, penokohan, latar, pusat pengisahan dan gaya bahasa. Menurut saya, pembaca akan bisa memahami karena penjelasan yang diberikan sudah sangat jelas dan cukup detil.
Struktur drama Penulis menjelaskan definisi drama sebagai ciptasastra yang mempertimbangkan akan kebutuhan-kebutuhan dan kemungkinan bagi syarat-syarat teaterikal dan pementasan. Bahkan memberikan beberapa kaidah yang dituntut oleh Aristoteles dalam sebuah drama. Penjelasan dalam sub bab ini juga jelas dan terperinci. Pengertian kritik Kesusasteraan Sub bab ini menjelaskan mengenai pengertian kritik kesusasteraan menurut H.B Jassin. Karena H.B Jassin merupakan tokoh kritikus sastra Indonesia. Penulis juga memaparkan kriteria apa saja yang harus dimiliki sebagai seorang kritikus. Penjelasan dalam sub bab ini sudah cukup memadai dan detil. Peranan kritik sastra Penulis mengutarakan bahwa kritik sastra tidaklah hanya diarahkan kepada pengarang dari ciptasastra yang sedang dibicarakan. Ia juga menyontohkan kasus kehidupan kesusasteraan Indonesia selama ini dirasakan adanya semacam “gap” atau jurang pemisah antara sastrawan dengan ciptasastranya dan dengan masyarakat. Bahkan masyarakat telah memiliki ukuran-ukuran yang keliru terhadap karangan-karangn yang mereka baca. Penulis juga menuliskan harapannya agar para eseis dan guru-guru sastra harusnya tampil menggarap dunia kritik sastra. Dua metoda kritik sastra Penulis menjelaskan terdapat dua metoda yaitu ganzheit dan analitik disertai dua contoh puisi dan pemaparannya pun sudah saya anggap jelas serta tidak berbelit-belit. Kedudukan kritik dalam kesusasteraan Penulis memberikan contoh yaitu Arief Budiman dan Gunawan Mohamad yang menganggap kritik sastra sebagai ciptasastra. Seribu kritikus bisa melahirkan seribu pendapat terhadap sebuah ciptasastra dan karena itulah Arief Budiman dan Gunawan Mohamad menempatkan kritik sastra ke dalam ciptasastra sebagai karya seni. Dalam pembahasan sub bab ini penulis sudah cukup andil memberikan contoh dari beberapa pernyataan tokoh sastra. Beberapa tokoh Dalam sub bab ini penulis juga memberikan beberapa nama tokoh kritikus sastra Indonesia yang terkenal seperti H.B Jassin, Prof. Dr. A. teeuw, Gunawan Mohamad, Boen S Oemaryati dan sederet nama lain. Dalam hal ini menurut saya, penulis sudah lumayan cakap mengenal beberapa tokoh sastra ataupun kritikus sastra yang turut memberikan andil bagi dunia kesusasteraan.
Aliran-aliran dalam kesusasteraan
Penulis menjabarkan beberapa aliran kesusasteraan yang ada di dalam sastra. Dalam perincian ini menurut saya sudah cukup jelas dan di akhir sub bab ini penulis juga memberikan konklusi yaitu aliran-aliran dalam kesusasteraan ini tidak dijumpai secara persis dalam sebuah ciptasastra. Humanisme Dalam sub bab ini penulis menjelaskan humanisme dalam kesusasteraan dan berpendapat bahwa karena kesusasteraan adalah perjuangan manusia dalam mencapai harkat yang lebih tinggi, pengungkapan tentang masalah-masalah dan perjuangan manusia, maka humanisme mendasari nilai-nilai yang ada di dalam kesusasteraan. Menurut saya, penulis cukup idealis dengan sub bab ini. Masalah-masalah agama dalam kesusasteraan Penulis cukup gamblang dalam memberikan contoh permasalahan agama dalam kesusasteraan, seperti halnya dengan humanisme, penulis menganggap memasukkan idealisme keagamaan dalam kesusasteraan dianggap wajar bahkan penting.
Pornografi dalam sub bab ini penulis memberikan pandangannya akan masalah seks yang biasanya diangkat dalam karya sastra, yang sering dipersepsikan umum sebagai pornografi. Menurutnya, pornografi bukanlah sebuah tema melainkan cara pengungkapan di dalam sebuah karya sastra. Dan menurutnya, masalah seks bukanlah hal yang terlarang dalam sastra. Hanya saja masing-masing pencipta ciptasastra dan masing-masing negara memiliki budaya dan pemikiran yang berbeda yang harus dihargai. Yang buruk adalah pornografi yang tidak memiliki nilai-nilai, hanya bermaksud agar laris di pasaran tanpa memperhatikan amanah dalam karya sastra tersebut. Pandangan kritikus barat terhadap kesusasteraan Indonesia Penulis menyebutkan beberapa kritikus barat yang ia kenal melalui kritikannya, seperti Prof.Dr. A. Teeuw, Dr. A. H. Johns, Harry Aveling, dan Burton Raffel. Mereka sederet nama yang turut menilai kesusasteraan di Indonesia. Salah satu kritik yang disampaikan adalah mengenai penyisihan seks yang benar-benar dan masuk akal, salah satu dari mereka yaitu Harry Aveling berpendapat bahwa memperlihatkan hubungan birahi dan nafsu dalam sebuah novel sastra Indonesia pasti menggambarkan tokohnya yang buruk, entah pelacur atau pekerja seks komersil lainnya, akan tetapi cinta yang murni pasti selalu digambarkan dengan hubungan yang lurus-lurus saja seperti kasih sayang antara adik dan kakak. Tidak lebih dari itu. Tidak seberani karya sastra barat. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya, apakah hubungan seksual di Indonesia merupakan hal atau tindakan abnormal? Menurut saya, penulis sudah cukup gamblang dalam memaparkan kritikan para kritikus sastra barat tentang kesusasteraan Indonesia. Sayangnya, penulis kurang memberikan argumennya seperti ia memberikan pendapat pada sub bab lain sebelum ini. Jadi, ia hanya menuliskan kritik dari para kritikus dan menuliskan pendapat mereka di dalam sub bab ini dengan detil.
Selintas perkembangan novel-novel di Indonesia dan pengertiannya
Dalam sub bab ini penulis beranggapan bahwa latar belakang sejarah dan zaman serta latar belakang kemasyarakatan punya pengaruh yang besar dalam proses penciptaan, juga dalam penulisan novel. Pengaruh yang demikian tidak hanya terbatas pada tema-tema yang diungkapkan akan tetapi juga terhadap struktur ciptaan tersebut. Penulis hanya memberikan pandangan sederhananya di dalam sub bab ini dan ia kembangkan pada sub bab selanjutnya. Perkembangan tema dalam novel-novel Indonesia Sub bab ini menjelaskan tentang lahirnya karya sastra akibat permasalahan dan persoalan zaman. Penulis memberikan beberapa contoh seperti awal abad 20 adalah masa-masa dimana bangsa Indonesia mulai mengenal kebudayaan barat. Masalah yang dirasakan saat itu adalah feodalisme sebagai penghambat kemajuan. Hal ini tercermin dari beberapa ciptasastra seperti novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka dan Salah Asuhan karya Abdul Muis. Seketika permasalahan bergeser pada peristiwa sumpah pemuda yang terjadi pada tahun 1928, yang mencetuskan tekad tentang kesatuan tanah air, dan itu pun terlukis pada novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana dan Manusia Baru karya Armijn Pane. Beberapa tendensi perkembangan lainnya Tendensi yang berkembang ini terlihat jelas oleh penulis yang cermat memerhatikan novel-novel yang terlahir dari Balai Pustaka. Adanya perkembangan dan kebudayaan barat yang dimukai akhir abad 19 dan dimulai awal abad 20 menimbulkan keresahan dan kebimbangan pada tata nilai masyarakat Indonesia. Misalnya saja, terlukis dengan jelas pada novel-novel seperti Sitti Nurbaya dan syamsul bahri tokoh-tokoh yang berada dalam Sitti Nurbaya “Marah Rusli”, mereka berusaha keras melawan tatanan nilai tradisi masyarakat dan hampir berhasil walau akhirnya mereka malah gagal bersatu, kemudian kisah Zainuddin yang telah berkorban banyak dan melewati pendakian demi pendakian, dalam perjalanan dan perjuangannya melawan tradisi, namun ia malah terjebak oleh tradisi lain yang memiliki anggapan “Pantang pemuda makan sisa”, akhirnya Zainuddin yang hampir keluar menjadi pahlawan pun bertekuk lutut pada sebuah anggapan (tenggelamnya kapal van der wicjk), kisah selanjutnya yaitu Hanafi yang berpendidikan akan lingkungan barat yang tetap saja tidak bisa meninggalkan kebudayaan lamanya (salah asuhan), kemudian tokoh Tuti dalam (Layar Terkembang) karya Sutan Takdir Alisjahbana, yang kelihatannya kokoh dan mantap adalah tidak lebih dari seorang idealistik dan terlalu diforsir. Selanjutnya juga bisa dilihat pada novel “Belenggu”, kisah dr. Sukartono dan istrinya Sumartini yang mencoba lepas dari sebuah belenggu namun akhirnya terjebak pada belenggu lainnya. Hal-hal demikian membuktikan bahwa meskipun mereka telah berhasil memberontak terhadap tradisi yang baru, belumlah hal itu menjamin pada mereka untuk mendapat yang lebih baik dari sebelumnya. Klimaks dari suatu proses Dari pembahasan beberapa novel di atas, penulis menilai bahwa dari proses yang ada, dan beberapa pemberontakan tradisi yang ada, mereka baru sampai pada titik klimaks, dan belum memiliki anti klimaks.
Selintas perkembangan puisi Indonesia
Dalam bab terakhir di buku ini hanya terdapat satu sub bab, dan penulis menjelaskan dengan sekilas mengenai perkembangan puisi yang ada di Indonesia, kemudian membandingkan seorang penyair dengan penyair lainnya melalui karya-karya mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s